Jatuh Cinta Pada Rencana-Rencana Allah

Sudah sejak dua hari yang lalu memutuskan untuk menulis. Sudah ada dua draft tulisan di blog ini yang menceritakan “kelelahan” dua hari yang lalu. Menceritakan suka duka menjadi graphic designer dan konflik-konfliknya, yang ternyata nggak cuma konflik lahir tapi juga konflik batin. Miskomunikasi yang nggak cuma di level designer x client, yang ternyata bisa juga…

Quarter Life Crisis And How To Deal With It

Yosh, Bismillah, insyaAllah tema tentang “Quarter Life Crisis” akan jadi postingan ceritaku yang kedua. Pernahkah kamu merasakan ketika terbangun, kamu bingung akan melakukan apa, kamu bingung akan membuat keputusan-keputusan seperti apa, kamu bingung apa yang kamu inginkan? Tidak sedikit para manusia berusia sekitar 20 keatas hingga jelang usia 30 tahun mengalaminya. Kehidupan yang rasanya “beda…

Mengenal Diri

Berawal dari obrolan sama sahabat saya intan, ngomongin anaknya yang namanya Alma, yang sering dijadiin live emoticon kalau lagi chatting sama suaminya, tiba-tiba dia bilang “Kamu ngeblog lagi dong fa! Curhat lagi gitu! Isinya sekarang blogmu serius-serius semua.” Dan tiba-tiba saya merasa bahwa kerecehan tulisan di blog yang dulu bikin temen-temen di Poltek tertawa ngakak…

Setara Dalam Kebaikan Juga Keburukan

Tadinya, saya pernah berpikir bahwa sebuah peradaban, tanggung jawab besarnya ada pada seorang perempuan. Dan kalau sebuah generasi itu jelek, perempuanlah yang bertanggung jawab atas kerusakannya. Perempuanlah yang patut disalahkan (padahal saya sendiri adalah seorang perempuan). Tadinya saya pikir begitu. Sampai akhirnya saya menemukan fakta bahwa laki – laki pun punya porsi yang sama dalam…

Mencari Hikmah Kebaikan [Bagian 1]

Saya belajar, bahwa ketika kita melihat saudara kita melakukan kebaikan, namun kita memandang negatif tentangnya atau kebaikannya itu, kita harus mengatakan ini pada diri sendiri :   Terlepas dari apapun niat si pembuat kebaikan. Kita tak pantas menilai niatnya bukan? Biarlah Allah yang membalas segala yang diniatkannya dengan yang sesuai menurut Allah.   Jangan rendahkan…

Bukankah kita terlalu picik?

Bukankah kita terlalu picik? Menilai orang lain hanya dari apa yang kita lihat, hanya dari perbandingan atas apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita fikir. Bukankah terlalu picik, jika menilai orang hanya dari fisiknya? Bukankah terlalu picik, menilai orang hanya dari apa yang kita dengar? Iya! Kadang kita terlalu picik. Membiarkan…

Tidakkah merasa malu?

Tidakkah kita merasa malu? Saat dihadapkan dengan orang banyak kita mengatakan “Segala yang baik berasal dari Allah, sedangkan keburukan berasal dari diri saya sendiri“. Namun, saat dihadapkan dengan diri sendiri, secara terang – terangan kita mengatakan “Ini salah si Fulan”.